#AtjehTrip – Road Trip Banda Aceh – Gayo Lues


Aceh, negeri indah di ujung barat Indonesia. Sejak kecil saya sudah akrab dengan nama daerah ini, karena Ibu saya dulunya saat masih belum menikah pernah menetap di salah satu daerah di provinsi ini. Ibu saya yang saat itu menjadi pengajar di sekolah menengah pertama tinggal di Lhokseumawe bersama tante saya dan keluarganya.

Saat mendapat kabar akan tugas luar kota saya sangat excited sekaligus agak sedikit cemas.Jujur sedikit banyak saya terdampak oleh pemberitaan tentang daerah ini di saat masih menjadi Daerah Operasi Militer (DOM).

Namun rasa cemas itu kalah dengan rasa penasaran dan ga sabar pengen mengexplore negeri yang indah ini. Terutama ketika tau kalo saya harus mengunjungi salah seorang penggiat kewirausahaan sosial di dataran tinggi Gayo (Gayo Lues). Menurut info yang saya dapat dari seorang teman, daerah bernama blangkejeren itu berjarak 10 jam perjalanan dari kota Banda Aceh.

Makin ga sabaran lah saya, karena saya sejatinya suka sekali dengan perjalanan darat. Selama jalannya mulus-mulus aja mah ga ada masalah buat saya.

Penerbangan ke Banda Aceh dari Jakarta berjalan lancar tanpa kendala, cuaca bagus, langit cerah dan mentari yang malu-malu keluar dari balik awan menyambut saya di bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Rupanya hujan baru saja mengguyur negeri ini.

Perjalanan saya pertama kalinya ke Aceh ini ditemani oleh Uda Masril Koto, salah seorang penggiat kewirausahaan sosial di Ranah Minang. Beliau adalah pemilik bank petani. Seharusnya saya terbang bersama beliau dari Jakarta, namun flight beliau dari Jambi – Jakarta di tunda karena kabut asap, yang berakibat mundurnya jadwal terbang beliau dari Jakarta ke Banda Aceh.

Untungnya saya di jemput oleh staff lokal BUMN yang memberikan tugas luar daerah pada saya. Saya diantarkan ke hotel di tengah pusat kota – karena permintaan saya- sembari menunggu uda Masril datang. Saya pun diantar ke hotel Sultana.

Bosan hanya berbaring dikamar, saya pun bertanya ke staff hotel bagaimana caranya untuk dapat ke Masjid Raya Baiturrahman, karena saya dengar dari abang yang menjemput saya bahwa hotel ini dekat dengan masjid raya.

Staff hotel menyarankan saya naik bentor akan becak motor, namun saya memilih jalan kaki. Ternyata benar, lokasi hotel dan masjid raya hanya berjarak 10 menit berjalan kaki.

Saya pun menyempatkan diri beribadah sholat magrib di Masjid Raya Ini. Setelah itu saya melanjutkan jalan-jalan di seputaran masjid, mencari-cari cemilan tradisional khas Aceh sambil menunggu uda Masril tiba. Eh ga sengaja nemu Ibu penjual pancong durian yang enak bingits..

Ga lama staff lokal yang menjemput saya telpon dan kami pun segera berangkat ke bandara di kawasan blang bintang untuk menjemput uda Masril. Setelah itu kami pun kembali ke hotel, setelah mengucapkan terimakasih ke staff lokal yang telah meluangkan waktunya, karena keesokan harinya kami akan berangkat ke daerah tujuan menggunakan mobil rental yang sudah uda Masril pesan sebelumnya.

Ga pake mandi, ga lama kemudian teman uda Masril datang mengaja kita makan malam di salah satu coffeshop, sambil ngopi tentunya. Banyak hal dibahas malam itu, termasuk budaya ngopi dan batu cincin yang lagi hips banget.

Teman-teman uda, menyarankan kami berangkat malam itu juga karena jauhnya jarak yang akan ditempuh. Akhirnya direncanakan kami berangkat dini hari biar dijalan aman.

Berang-berang makan coklat, Berangkaaaaaat……

Perjalanan malam pun dimulai kami sempat beristirahat di jalan menunggu subuh sebelum melanjutkan perjalanan. Awalnya seperti perjalanan darat yang biasa saja, sawah luas membentang, rumah penduduk,sawah lagi, rumah penduduk lagi., begitu saja seterusnya. Ini perjalanan darat pertama saya,Uda,dan driver yang ke Blangkejeren.

Namun setelah sekian jam perjalanan , saat mulailah terlihat pemandangan alam yang menakjubkan. Barisan pohon pinus (cemara) yang membentang indah di pinggir jalan yang saya lewati mengingatkan saya akan lagu dimasa kanak-kanak ” Naik Ke Puncak Gunung”.

Bahkan di perjalanan, saya sempat melihat salah satu sekolah menengah atas yang halaman sekolahnya berjejer rapi pohon-pohon ini. Rindang banget dan indah dipandang :D, namun saya tidak sempat meminta driver untuk sekedar berhenti sebentar karena kami mengejar waktu tiba di Blangkejeren sebelum matahari tenggelam.

Jalanan pun mulai berubah pemandangannya dari pohon yang berbaris rapi menjadi bukit batu dan mulai menyempit ruasnya karena ada perbaikan jalan dan tanah longsor.



Setelah sekian jam di jalan saya mulai bosan :D, saya pun iseng memotret apa saya yang menurut saya menarik di sepanjang perjalanan







Jalanan yang kami lalu semakin memburuk dan terus mendaki. Jangan ditanya seberapa buruknya, jalanan tanah becek di kanan bukit yang berpotensi longsor di kala hujan, di kiri jurang menganga. Daerah yang kami lalui rupanya sedang berbenah, jalan penghubung antar kota di Aceh yang melewati perbukitan ini sedang di perbaiki. Bukit diperkuat agar tidak longsor, jalan sedang dalam proses pelebaran.

Setelah melewati memasuki jam makan siang, melewati 15 bukit (driver diam2 menghitungnya),dan tak menemukan warung makan dijalan – ya iya soalnya di atas gunung dan dalam hutan raya- kami mulai memasuki fase frustasi. Si uda menyarankan agar kami kembali saja. Saya menolak, sudah kepalang tanggung da, ujar saya. Kita selesaikan saja tugas ini, lanjut saya.

Di tengah perjalanan kami menemukan perkampungan, kami sempat berhenti sejenak untuk membeli bensin eceran dikarenakan tidak ditemukannya spbu.


Tiba di BlangKejeren *Alhamdulillah*

Akhirnya menjelang magrib tibalah kami di daerah yang kami tuju setelah menempuh 16 jam perjalanan darat yang luar biasa, pemandanganny sungguh indah. Sungai mengalir jernih dengan latar belakang perbukitan yang kami lalui.

Hujan mulai turun saat kami akan sampai di lokasi, kami bertemu penggiat kewirausahaan sosial yang akan kami kunjungi di perjalanan. Beliau menjemput kami dibatas kota dan memandu kami ke kota Blangkejeren. Kami pun makan malam di pusat kota, sambil bertanya tentang kegiatan yang dilakukan sehari-hari.


Pak Ali Amran, adalah penggiat kewirausahaan sosial di daerah Gayo Lues, beliau adalah ketua Koperasi Industri Nilam Gayo (KING). Koperasi ini membantu petani untuk menanam tanaman nilam yang minyaknya digunakan sebagai bahan baku parfum sabun dan lainnya.

” Permasalahan utama adalah pembukaan lahan, karena untu menanam nilai butuh lahan yang luas, namun biaya pembersihan lahannya pun juga tak sedikit pak ” ujar bang Ali.

“Kami berusaha membantu petani untuk dapat menanam tanaman nilam dan juga terus melakukan sosialisasi agar petani-petani lainnya yang belum menjadi anggota koperasi mau menanam nilam di lahan pertaniannya” lanjut bang Ali

Nilam dari Petani dibeli oleh Koperasi dengan harga diatas harga pasar, kemudian koperasi menjualnya dalam bentuk minyak nilam kualitas terbaik dari hasil penyulingan. Minyak ini nantinya akan di salurkan ke industri. Dana yang di dapat dari hasil penjualan dikembalikan ke petani anggota koperasi simpan pinjam.


Kami pun menyempatkan diri berkunjung ke salah satu lahan kebun nilam yang dimiliki oleh koperasi ini, sayangnya hari telah malam dan listrik padam. Setelah selasai melakukan kunjungan yang hanya 4 jam – perjalanannya memakan waktu 16 jam – kami pun pamit ke bang Ali, pulang ke Banda Aceh.

Bang Ali menyarankan mengambil rute yang berbeda dari rute yang kami lewati sebelumnya, karena lebih cepat katanya. ” Jalan yang rusak cuma 30 KM pak, setelah itu bagus 20 KM, nah nanti bapak akan ketemu jalan raya besar nah tinggal belok kanan lurus aja terus sampe Banda Aceh” ujar bang Ali.

Pulaaaang……

Kami pun mengikuti saran dari Bang Ali, namun ternyata itu adalah awal dari petualangan selanjutnya di Aceh. 1 jam pertama jalanan masih mulus dan lancar, setelah itu kabut mulai menutupi pandangan dan jalan sudah mulai rusak. Uda sudah tertidur pulas sementara saya harus begadang menemani supir.

Saat jalanan mulai mendaki, mobil tiba-tiba di ada tenaganya.Driver yang terlihat tenang namun panik berkata: ” Pak, kenapa ya mobilnya terasa berat.. ga ada tenaganya buat nanjak “. Saya yang mengerti maksud si supir kemudian membangunkan si uda, dan bilang ke Driver “Tenang, Fokus aja, ga usah panik. pasti bisa, pelan2 aja. “

Driver pun mencoba,setelah beberapa kali mencoba akhirnya mobil pun bisa menanjak dan perjalanan pun dilanjutkan. Karena jalan yang dilalui rusak berat, kecil dan sempat, maka pratis mobil hanya bisa melaju 20 km/jam. Ga bisa ngebut karena jurang menganga di pinggir jalan.

Tiba2 ditengah perjalanan yang menurun , ada pohon besar melintang menghalangi laju mobil. ” Ya Allah, cobaan apa lagi ini ” batin saya. Kabut pekat menyelimuti daerah yang kami lalui. Saya, Driver dan Uda turun untuk mengecek keadaan. Tidak terlihat jalan yg bisa dilalui karena pekatnya kabut, sementara di belakang batang pohon yang melintang terlihat pohon besar yang menjulang dari bawah jurang.

Kami pun masuk mobil, dan memutuskan menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan. ” Jika besok pagi tetap ga ada jalan kita gimana da? ” tanya saya ke uda. Uda menjawab ” Bawa yang penting2, tinggalkan mobil, kita jalan balik ke belakang. saya akan telpon teman saya TNI, mau minta jemput helikopter”. Saat mendengar penjelasan uda, saya iseng ngecek sinyal hape, ternyata blankspot 😦

Pagi hari…

Kabut pekat perlahan-lahan mulai hilang dari pandangan, kami pun segera keluar melihat keadaan di sekitar mobil. Ternyata di sebelah kanan belakang mobil ada jalan :D. Alhamdulillah yah sesuatu, akhirnya kami pun bisa melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan kami menyempatkan berfoto untuk kenangan-kenangan menginap semalaman di hutan Gunung Leuser






Kami semua bersyukur kami dapat melanjutkan perjalanan pulang, namun menyimpan tanda tanya besar dalam kepala ” Kenapa ya semalam kami dipaksa menginap di tengah rimba Gunung Leuser ? “

Tak berapa lama, kami pun menemukan sebuah rumah, kami berhenti untuk sarapan pagi sekaligus bertanya ke pemilik rumah yang juga warung sederhana tentang daerah yang kami lalui.

Ibu Pemilik rumah menjelaskan bahwa daerah tempat kami menginap bernama bukit panji – masyarakat sekitar menyebutnya begitu- , di bukit itu ada penunggunya. yang baik dan yang jahat.

Yang baik disebu Aulia, kakek tua berpakaian dan berjanggut putih ,yang ditemui jam 3 pagi oleh driver kami di belakang mobil (driver sengaja tidak membangunkan saya dan uda). Aulia ini hanya menampakan diri ke orang asli Aceh. Biasanya dia akan datang jika ada yang mengganggu perjalanan seseorang.

Kami ceritakan soal mobil yang ga bisa nanjak ke ibu pemilik warung dan bau busuk di dalam mobil yang tercium oleh uda dan driver. Yang ga kuat nanjak ada yang numpang tuh, kata si ibu dan bau busuk itu juga sama. Yang numpang berbau busuk itu %$%^ (sensor).

Setelah selesai sarapan kami pun pamit ke si ibu pemilik warung, melanjutkan perjalanan pulang ke Banda Aceh.





Tak lama kami pun tiba di jalan besar yang mengarah ke Meulaboh terus ke Banda Aceh.

Jalanannya sangat lebar dan mulus, daerah ini dulunya adalah daerah yang juga terkena tsunami selain Banda Aceh, karena berhadapan langsung dengan laut lepas.

” Ini jalan raya Amerika “, ujar Uda Masril ke saya.

Jalanan yang dibuat dengan standarnya Amerika, dibiaya dan dikerjakan oleh mereka saat rekonstruksi pasca Tsunami.

“Bagus lah ” ucap saya ke uda,

“Sudah 10 tahun lebih, masih terlihat bagus dan tidak ada yang rusak, kalo orang kita yang ngerjain belum tentu begini.liat aja pantura, tiap tahun di perbaiki tetap aja rusak terus”




Uda pun hanya nyengir mendengar penjelasan saya. Setelah sebelumnya kenyang di hutan raya dalam gunung di perjalanan pulang ini kami kenyang liat pemandangan laut. Sepanjang jalan yang di lihat cuma lautan luas membentang.. Indahnya pantai di daerah ini, berpasir putih dan tidak ada cottage-cottage yang di kuasai oleh pemilik modal asing.




Perjalanan Darat Banda Aceh-BlangKejeren-Banda Aceh selama 36 jam , benar-benar membuka mata dan pikiran saya, bahwa masih banyak daerah di negeri ini yang bagus dan memiliki potensi pariwisata yang cukup besar, yang harus di kelola oleh masyarakat lokal, bukan orang asing.

Saya dan Uda Masril bersyukur kami bisa kembali pulang dan bercerita kepada rekan, saudara dan dunia tentang pengalaman kami. Jika tidak menemukan jalan pulang pagi itu, mungkin akan lain ceritanya.

Penulis :NN
Sumber : Bola Nasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *